NGAWI, Orbit Indonesia
Pada Hari Selasa (17/3/2026), Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi bersama Yayasan Para Mitra Indonesia melalui Program Inklusif System Effective For Eye Care (I-SEE) menggelar pertemuan strategis untuk membangun kesepakatan bersama dalam mewujudkan layanan kesehatan mata yang komprehensif dan inklusif. Kegiatan yang berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi ini menjadi tonggak penting dalam memastikan akses kesehatan mata bagi seluruh warga, termasuk penyandang disabilitas.
Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai unsur kunci, termasuk organisasi penyandang disabilitas (Pertuni, Gerkatin, dan WIDI), Dinas Sosial, perwakilan Rumah Sakit percontohan yaitu RSUD dr. Soeroto Ngawi dan RS Widodo, serta Puskesmas percontohan yakni Puskesmas Sine dan Puskesmas Karangjati.
Komitmen Melibatkan Disabilitas dalam Pembangunan
Project Manager Program I-SEE Yayasan Para Mitra Indonesia, Bapak Marsudi, dalam sambutannya menekankan bahwa layanan kesehatan mata yang inklusif tidak dapat dipisahkan dari partisipasi aktif organisasi disabilitas.
"Kami mendorong pembangunan inklusi di Ngawi melalui pelibatan disabilitas dalam setiap aspek, mulai dari sarana prasarana hingga pelayanan. Tujuan hari ini adalah membangun kesepakatan konkret mengenai alur rujukan rehabilitasi penglihatan. Saat ini memang baru fokus di RS dan Puskesmas percontohan, namun harapannya ke depan seluruh fasilitas kesehatan di Ngawi sudah aksesibel bagi semua orang," ujar Marsudi.
Penguatan Sistem dan Alur Rujukan
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Suhadi Nanang Sucipto, SKM, M.M, yang secara resmi membuka acara, menyampaikan apresiasinya atas dukungan Program I-SEE yang didukung oleh CBM Indonesia. Ia mencatat bahwa program ini telah banyak membantu dalam peningkatan kapasitas staf, audit aksesibilitas, hingga pelatihan Disability Inclusion Development (DID).
"Kita tidak hanya memberikan pelayanan medis, tetapi membangun sistem. Tidak boleh ada warga Ngawi yang terhambat mendapatkan layanan mata hanya karena keterbatasan fisik atau sensorik. Kami ingin memastikan pasien mendapatkan penanganan yang berkelanjutan—mulai dari deteksi dini di tingkat desa hingga tindakan medis dan rehabilitasi di rumah sakit," tegas Nanang Sucipto.
Langkah Strategis dan Monitoring Partisipatif
Dalam sesi presentasi, Yayasan Para Mitra memaparkan kerangka layanan mata yang mencakup aspek promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif. Beberapa poin utama yang disepakati meliputi:
• Peran Aktif Organisasi Disabilitas: Melakukan kunjungan rutin (monitoring) ke faskes dan memberikan masukan teknis.
• Penyusunan SOP: Melibatkan disabilitas dalam penyusunan standar operasional pelayanan yang ramah disabilitas.
• Dukungan Teknis: Melanjutkan keberhasilan pelatihan Mitra Bakti Netra di RSBN dan dukungan kunjungan rujukan low vision.
Rencana Tindak Lanjut
Sebagai tindak lanjut nyata, para pihak menjadwalkan pertemuan pada Kuartal 2 tahun 2026 untuk membahas draf Dokumen Kerjasama (MOU) antara Rumah Sakit dan organisasi disabilitas. Fokus utama dari kesepakatan mendatang adalah memantapkan alur rujukan rehabilitasi sosial agar pasien dengan gangguan penglihatan mendapatkan pendampingan yang utuh setelah penanganan medis selesai.
Pertemuan ini diharapkan menjadi pondasi kuat bagi Kabupaten Ngawi untuk menjadi daerah percontohan dalam penyelenggaraan layanan kesehatan yang tidak meninggalkan satu orang pun (leave no one behind).

Posting Komentar
0Komentar