Oleh: Maman Supriatman
Tim Riset IPCE
2 Januari 2026
Al-Qur’an tidak mengabadikan kisah banjir Nuh sebagai drama keluarga atau tragedi kuno. Ia mengabadikannya sebagai cermin epistemik lintas zaman.
Menariknya, bukan air bah yang pertama kali disorot, melainkan dua sikap manusia terhadap bahtera keselamatan: yang satu menertawakan, yang lain menolak.
Di antara tawa dan penolakan itulah, sebuah peradaban tenggelam.
BAHTERA SEBAGAI ILMU YANG TIDAK DIANGGAP ILMU
Sebelum bahtera menjadi alat keselamatan, ia terlebih dahulu menjadi objek ejekan. Al-Qur’an mencatatnya secara gamblang:
"Dan dia (Nuh) membuat bahtera. Dan setiap kali pemuka kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia berkata: 'Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami pun akan mengejek kamu sebagaimana kamu mengejek.'"
(QS. Hūd: 38).
Di sini, yang ditertawakan bukan hanya Nabi, tetapi sebuah pengetahuan tentang masa depan yang belum bisa diverifikasi secara empiris.
Inilah kritik epistemiknya: ilmu yang datang dari wahyu sering ditertawakan karena tidak sesuai dengan logika zaman yang sedang berkuasa.
Kaum Nuh tidak bodoh. Mereka hidup di daratan, langit cerah, dan belum ada preseden banjir global. Dari sudut pandang rasionalisme sempit, membangun kapal di darat adalah tindakan absurd. Maka mereka menertawakan.
Dalam bahasa modern, ini adalah epistemic arrogance:
- Hanya mengakui pengetahuan yang sesuai dengan pengalaman sekarang.
- Menolak peringatan yang melampaui horizon empiris.
- Menganggap wahyu sebagai irasional, mitologis, atau tidak ilmiah.
Bukankah ini persis sikap peradaban modern?
Ketika eskatologi ditertawakan, ketika krisis peradaban diperingatkan lalu dianggap alarmisme, ketika etika profetik dicap penghambat inovasi, maka kita sedang mengulang tawa kaum Nuh dengan istilah akademik yang lebih canggih.
Yang ditertawakan adalah pengetahuan tentang masa depan: pengetahuan yang belum dapat diverifikasi secara empiris, belum memiliki preseden historis, dan belum sesuai dengan pengalaman inderawi saat itu.
Kritik epistemiknya menjadi jelas: ilmu yang datang dari wahyu sering ditolak bukan karena salah, tetapi karena datang terlalu awal bagi nalar zamannya.
ANAK NUH DAN ILUSI KESELAMATAN RASIONAL
Adegan kedua lebih tragis, karena datang dari dalam keluarga Nabi sendiri.
"Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang terpisah: 'Wahai anakku! Naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.' Dia menjawab: 'Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air.' Nuh berkata: 'Tidak ada yang melindungi hari ini dari ketetapan Allah kecuali yang Dia rahmati.'"
(QS. Hūd: 42–43).
Ini adalah momen paling telanjang dari krisis epistemik manusia. Anak Nuh tidak menolak ayahnya karena kebencian, tetapi karena kepercayaan pada solusi rasionalnya sendiri.
Gunung = teknologi;
Ketinggian = keunggulan struktural;
Perhitungan = logika keselamatan.
Tetapi ia lupa satu hal, bahwa krisis peradaban tidak selalu bisa diselamatkan oleh kecerdasan teknis.
Ia percaya pada gunung (teknologi), tetapi melupakan yang menciptakan gunung. Ia mengandalkan ketinggian (keunggulan teknis), tetapi melupakan ketinggian yang hakiki: Rahmat Ilahi.
DUA DOSA EPISTEMIK YANG SAMA
Jika dirangkum, Al-Qur’an sedang mengkritik dua bentuk kesesatan pengetahuan:
Tawa Kaum Nuh → rasionalisme yang menolak wahyu karena belum terbukti empiris;
Penolakan Anak Nuh → rasionalisme yang percaya bahwa solusi teknis cukup tanpa ketaatan transendental.
Yang pertama menolak karena tidak masuk akal. Yang kedua menolak karena merasa sudah cukup berakal.
Inilah dua wajah peradaban modern: menertawakan wahyu, dan menyembah solusi buatan sendiri.
Keduanya berasal dari akar yang sama: keangkuhan epistemik yang menganggap manusia sebagai ukuran kebenaran tertinggi.
EPISTEMOLOGI PROFETIK SEBAGAI ANTITESIS AROGANSI MODERN
Di sinilah IPCE hadir sebagai kritisisme yang dibutuhkan zaman.
Epistemologi profetik dengan tiga pilar: Kosmologi Profetik, Eskatologi Kritis, dan Epistemologi Pemulihan, yang sering ditertawakan dan ditolak oleh epistemologi modern.
Mengapa?
Karena epistemologi modern hanya melihat dengan satu mata: mata material-empiris yang buta terhadap makna transenden. Epistemologi profetik mengajak untuk melihat dengan dua mata: mata empiris dan mata makna, mata data dan mata hikmah.
Alasan penolakan epistemologi profetik persis seperti penolakan terhadap Nuh:
- Kosmologi Profetik ditertawakan karena mengajak melihat alam sebagai ayat, bukan hanya objek.
- Eskatologi Kritis ditertawakan karena mengingatkan konsekuensi peradaban yang dianggap mitos.
- Epistemologi Pemulihan ditolak karena menuntut tanggung jawab moral dalam penelitian.
Epistemologi modern seperti anak Nuh: mengira gunung teknologi cukup menyelamatkan, tanpa perlu naik bahtera wahyu dan hikmah.
EPILOG: PELAJARAN YANG MASIH MENGGEMA
Al-Qur’an mengunci narasi ini dengan satu ayat yang sangat epistemik:
"Dan sungguh, telah Kami jadikan (kapal itu) sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?"
(QS. Al-Qamar: 15).
Ayat ini adalah interpelasi langsung kepada setiap zaman. Seolah Al-Qur’an bertanya: kalian sudah melihat tawa, kalian sudah melihat penolakan, kalian sudah melihat akibatnya. Lalu apa yang berubah?
Hari ini bahtera itu bernama etika profetik dalam sains, batas moral dalam teknologi, wahyu sebagai kompas pengetahuan.
Dan seperti dulu: ada yang menertawakannya sebagai tidak ilmiah, ada yang menolaknya karena merasa punya "gunung" teknologi.
Pertanyaannya tetap sama, menggema lintas abad: Masih adakah kita yang mengambil pelajaran? Ataukah kita sedang mengulang tragedi itu bukan dengan air, tetapi dengan data, algoritma, dan kekuatan yang tak lagi tahu cara berhenti?
IPCE hadir sebagai suara yang mungkin ditertawakan hari ini, tetapi mungkin juga akan dikenang besok sebagai suara yang mencoba menyelamatkan peradaban dari tenggelam dalam keangkuhan pengetahuannya sendiri.
Karena dalam setiap zaman banjir, yang pertama-tama tenggelam bukanlah tubuh manusia, melainkan kesombongan akalnya sendiri. Dan ketika akal sudah tenggelam dalam kesombongan, segalanya yang lain akan menyusul.
Pilihan kita sekarang sederhana: menertawakan bahtera atau menaikinya, mengandalkan gunung atau mengakui bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi dari semua gunung teknologi kita.
والله أعلم

Posting Komentar
0Komentar