Bahan gawang kusen pintu dan panel papan kualitas diragukan, karena terbuat dari bahan kayu campuran. (Foto: Orbit-ind)
Ngawi, Orbit Indonesia
Revitalisasi disejumlah sekolah di Ngawi menuai sorotan tajam oleh para pengamat, karena berbagai hal, mulai dari pemakaian bahan dengan kualitas rendah hingga pengerjaannya dilakukan oleh masyarakat dari luar daerah. Padahal sesuai dengan petunjuk teknisnya diharapkan dapat dilakukan oleh lingkungan masyarakat setempat agar ada roda perputaran perekonomian.
Salah satu pantauan sejumlah media dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) serta masyarakat setempat disinyalir memakai daya dukung luar daerah. Seperti di SDN 3 Cepoko, Kecamatan Ngrambe misalnya, mereka memakai bahan dengan kualitas tidak memadai.
"Bisa dicek pemakaian panel gawang pintu dan jendelanya serampangan. Memang gawangya sebagian dari kayu jati, namun hasil pengamatan kami kayu jati yang kadar kekeringan dankualitas tidak bagus. Di samping itu, ada panel papan penutupnya bukan kayu jati, tapi hanya kayu rimba, seperti mahoni," terang salah satu aktifis JAK (Jatim Anti Korupsi) Ngawi.
Lebih lanjut ia menyatakan pemakaian bahan dengan kualitas rendah akan mengakibatkan umur bangunan pendek alias cepat rusak.
"Betul sekali, dengan pemakaian bahan-bahan bangunan yang tidak memadai akan berdampak terhadap umur bangunan," tambahnya.
Salah satu warga setempat, juga menyatakan hal yang sama, kayu yang dipakai untuk gawang pintu dan jendela menurut pengamatannya tidak berkualitas.
"Ada campuran kayu jawa (mahoni) dilihat dari tekstur kayunya. Namun karena sudah dicat dasar maka tekstur seratnya tidak begitu tampak," ujar Mardi warga Gedoro yang mengaku beberapa santrinya juga menjadi murid di SD ini.
Pengguanaan beberapa item bahan dwngan kualitas gak memadai tersebut membuat warga dan aktifis skeptis dengan kualitas proyek revitalisasi ini.
Sementara itu, Kasek SDN Cepoko 3 saat dikonfirmasi pada hari Selasa, 22/9/2026, tidak berada di sekolahan. Saat dihubungi lewat telepon selulernya hingga berita ini diunggah belum ada jawaban.
Sedangkan tim P2SP (Panitia Pelaksana Swakelola Pendidikan) yang lain tidak ada yang berada dilokasi, kecuali guru dan para pekerja.
Nama-nama Tim P2SP proyek revitalisasi SDN Cepoko 3 tersebut diantaranya adalah Santoso Kepala Sekolah), Agung Dwi Handono, Teguh Budi Santoso, Agus Riyanto, Mujiadi, dan Suwarto.
Disayangkan pula pengerjaan proyek tersebut juga tidak steril dadi proses ajar mengajar, sehingga dikhawatirkan akan terjadi insiden yang tidak diinginkan.
"Memang ada garis atau crossline tapi proyek ini tidak ada tutup pengaman. Lihat itu anak-anak leluasa keluar masuk area proyek, padahal berjali-kali juga sudah diperingatkan gurunya," ujar Mardi menyayangkan kesembronoan panitia proyek.
"P2SP gegabah tanpa mengindahkan faktor keamanan. Walau memang sejumlah pelang peringatan telah terpasang dengan baik. Kalau terjadi kecelakaan bagaiman tanggung jawabnya ?" imbuhnya saat meninjau pelaksanaan proyek revitalisasi pada hari yang sama.
Setali Tiga Uang, Proyek Revitalisasi SDN 4 Cepoko Berjalan Tidak Sesuai Harapan
Sama halnya dengan di SDN Cepoko 3, pembangunan revitalisasi di SDN Cepoko 2 juga berlangsung tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Di SDN Cepoko 4 yang memiliki siswa hanya sekitar 30 anak ini juga mendapatkan proyek revitalisasi dengan angka yang cukup besar, yakni sebesar Rp. 644 juta lebih. Bedanya proses belajar mengajarnya dialihkan di perumahan warga.
Berbeda dengan SDN Cepoko 3, proyek revitalisasi gedung sekolahan ini memakai jasa dari orang luar daerah. Bahkan tersebut dua orang dari propinsi Jawa Tengah, yakni Kabupaten Karanganyar. Pekerja berinisial Sgm mengaku dari Jawa Tengah. Ia mengatakan diproyek ini bukan tenaga skill khusus, tapi hanya pekerja biasa (serabutan).
"Saya dari Jawa Tengah pak, bekerja diproyek ini sebagai pekerja biasa, pasang list plang, tapi juga pekerja biasa. Bukan tukang," akunya.
Proyek revitalisasi disekolahan ini juga menyisakan permasalahan yang bisa saja mengganjal pelaksanaanya, yaitu terkait mutasi kepala sekolah selaku penanggung jawab. Saat ini kepala sekolah adalah Ida. Sementara saat perwngusulan hingga pelaksanannya masih kepala sekolah yang lama Heri, yang pada saat ini sebagai kepala sekolah SDN Cepoko 1, Kecamatan Ngrambe.
Saat awak media mengonfirmasi kegiatan proyek tersebut kepsek Ida tidak ada ditempat, bahkan proses belajar mengajar diliburkan. Menurut informasinya ada kegiatan pramuka ditingkat kecamatan.
Pewarta: Koh Mien

Posting Komentar
0Komentar