“Sungguh aneh peradaban modern yang menolak cerita sebagai sumber pengetahuan, padahal tanpa transmisi cerita, peradaban ini tak akan pernah sampai pada tahap menulis data dan membangun sains. Cerita adalah rahim pengetahuan: tempat makna pertama kali dipercaya, diuji secara hidup, dan diwariskan lintas generasi, sebelum ia dibakukan sebagai teori, angka, dan arsip. Menolak cerita bukan sikap ilmiah, melainkan lupa asal-usul cara kita mengetahui.”_
— IPCE
Prolog: Pengetahuan yang Datang Tanpa Papan Tulis
Hampir semua dari kita belajar hal paling penting dalam hidup bukan dari buku teks, tetapi dari cerita.
Dari dongeng nenek sebelum tidur, kisah orang tua di dapur, petuah tetangga di saung, hingga obrolan panjang di teras selepas magrib. Tidak ada silabus, tidak ada ujian, tetapi pengetahuan itu melekat: tentang takut dan berani, benar dan salah, sabar dan tergesa-gesa, hidup dan mati.
Hari ini, bentuknya berubah. Dongeng nenek bergeser menjadi podcast. Cerita di bale desa menjelma thread media sosial. Petuah lisan tampil sebagai video pendek berdurasi satu menit.
Namun pertanyaannya: apakah yang berubah hanya medianya, atau juga cara kita mengetahui?
Mengapa Manusia Lebih Percaya Cerita daripada Data
Coba renungkan: Satu angka statistik bisa kita lupa dalam satu jam, tetapi satu kisah menyentuh bisa kita ingat seumur hidup.
Ini bukan kelemahan manusia modern, melainkan fitrah epistemik manusia.
Sejak awal peradaban, pengetahuan tidak pertama-tama hadir sebagai konsep, melainkan sebagai cerita.
Nabi tidak hanya menyampaikan hukum, tetapi kisah umat terdahulu.
Orang tua tidak berkata “ini norma sosial”, tetapi “dulu ada orang begini…”.
Masyarakat adat tidak menulis etika, tetapi mewariskannya lewat legenda.
Cerita bekerja bukan di kepala saja, tetapi di rasa. Ia menembus akal sekaligus nurani.
Cerita adalah teknologi pengetahuan paling tua dan paling tahan zaman.
Tradisi Lisan: Pengetahuan yang Hidup, Bukan Disimpan
Tradisi lisan sering dianggap “tidak ilmiah” karena: tidak ditulis, tidak punya catatan kaki, dan tidak bisa dikutip dengan gaya APA.
Namun justru di situlah kekuatannya.
Pengetahuan lisan: hidup dalam relasi, bukan arsip menyesuaikan konteks, bukan membeku, dan diterjemahkan ulang, bukan disalin mentah.
Dongeng nenek berbeda versinya di tiap daerah, dan itu bukan cacat, melainkan mekanisme adaptasi pengetahuan.
Ia seperti air: bentuknya mengikuti wadah, tetapi esensinya tetap sama.
IPCE membaca tradisi lisan bukan sebagai sisa masa lalu, melainkan arsitektur epistemik alternatif yang tidak tunduk pada logika kolonial teks dan arsip.
Dari Bale Desa ke Podcast Studio
Menariknya, dunia digital justru menghidupkan kembali apa yang sempat dianggap “kuno”.
Podcast, storytelling digital, voice note, bahkan live streaming, semuanya mengandalkan narasi, bukan sekadar informasi.
Orang mendengarkan podcast bukan hanya untuk “tahu”, tetapi untuk: merasa ditemani, menemukan makna, dan memahami hidup orang lain.
Podcast yang paling kuat bukan yang paling akademik, tetapi yang paling jujur bercerita.
Dalam arti tertentu, podcast hari ini adalah dongeng nenek dengan mikrofon.
Perbedaannya: jangkauannya global, ritmenya cepat, dan sering kali kehilangan kedalaman refleksi.
Di sinilah pertanyaan epistemik IPCE muncul: apakah digital storytelling akan menyembuhkan pengetahuan, atau justru melukainya kembali?
*Antara Hikmah dan Algoritma*
Tidak semua cerita membebaskan. Algoritma media sosial menyukai cerita yang: sensasional, emosional, memecah, dan memancing amarah atau ketakutan.
Akibatnya, seni bercerita bisa berubah dari sarana kebijaksanaan menjadi industri manipulasi afeksi.
Di titik ini, tradisi lisan Nusantara memberi pelajaran penting: cerita selalu disertai tanggung jawab moral, penutur cerita dikenal dan dipercaya, dan cerita tidak dilepas tanpa etika.
IPCE menyebutnya etik bercerita profetik: menyampaikan pengetahuan bukan untuk viral, tetapi untuk memelihara kehidupan.
*Kampus, Intelektual, dan Kewajiban Bercerita Ulang*
Kampus sering terjebak pada satu bentuk pengetahuan: tulisan akademik yang rapi, tetapi jauh dari publik.
Padahal, jika pengetahuan tidak bisa diceritakan ulang kepada masyarakat, maka ia belum benar-benar hidup.
IPCE mendorong: dosen yang bisa bercerita, bukan hanya menjelaskan, peneliti yang mampu menarasikan temuannya secara manusiawi, dan mahasiswa yang belajar menulis sekaligus bertutur.
Bukan untuk merendahkan akademik, tetapi untuk mengembalikan pengetahuan ke habitat alaminya: kehidupan sehari-hari.
EPILOG: CERITA SEBAGAI BENIH PENELITIAN DAN PENCIPTAAN PERADABAN
Ada satu paradoks besar dalam pengetahuan modern: ia lahir dari kisah-kisah besar tentang kemajuan, rasionalitas, dan pencerahan, namun justru mencurigai cerita sebagai sumber pengetahuan.
Sejak abad modern, cerita direduksi menjadi “subjektif”, “emosional”, dan “tidak reliabel”. Yang sah hanyalah data, arsip, angka, dan teks tertulis. Seolah-olah kebenaran hanya bisa lahir dari yang dibekukan di atas kertas, bukan dari yang hidup dalam ingatan manusia.
Padahal, penolakan terhadap cerita bukanlah keharusan ilmiah, melainkan pilihan epistemik yang sangat politis.
Cerita dicurigai bukan karena ia tak bisa diverifikasi, tetapi karena ia sulit dikendalikan. Cerita bisa disilang dengan cerita lain. Cerita bisa diuji konsistensinya lintas generasi. Cerita bisa dipertanyakan penuturnya, konteksnya, dan kepentingannya.
Justru karena itulah cerita berbahaya bagi rezim pengetahuan yang ingin tunggal dan hegemonik.
Pengetahuan modern lebih nyaman dengan arsip karena arsip bisa dikurasi oleh yang berkuasa.
Cerita lisan, sebaliknya, bergerak liar; hidup di banyak mulut, sulit dipatenkan, dan selalu membuka kemungkinan tafsir.
Di titik inilah tradisi lisan Nusantara disingkirkan: bukan karena lemah secara epistemik, tetapi karena terlalu merdeka.
Namun sejarah ilmu pengetahuan sendiri membuktikan: banyak terobosan besar justru bermula dari cerita.
Penelitian Gunung Padang dimulai bukan dari teori arkeologi kompleks, melainkan dari tuturan masyarakat lokal tentang bebatuan tak biasa, dari cerita turun-temurun tentang situs keramat, dari legenda yang dianggap mitos, yang kemudian menginspirasi penelitian ilmiah serius.
Dialog Timaeus Plato tentang Atlantis yang mengilhami perdebatan peradaban hilang selama ribuan tahun, berasal bukan dari riset empiris, melainkan dari cerita yang didengar Plato tentang kisah Mesir kuno yang dituturkan oleh Critias, yang mendengarnya dari kakeknya, yang mendengarnya dari Solon, yang mendengarnya dari pendeta Mesir.
IPCE memandang bahwa cerita tidak bertentangan dengan verifikasi. Yang diperlukan bukan penghapusan cerita, melainkan etika dan metodologi menyilang cerita: membaca satu kisah dengan kisah lain, satu ingatan dengan ingatan lain, satu versi dengan konteks kuasanya.
Dengan cara ini, cerita tidak menjadi dogma, tetapi juga tidak direduksi menjadi dongeng kosong.
Di zaman digital, ketika cerita kembali menguasai ruang publik lewat podcast, video, dan media sosial, pertaruhannya menjadi lebih besar. Kita bisa mengulang kesalahan lama: menolak cerita sebagai pengetahuan, atau jatuh ke ekstrem baru: menerima semua cerita tanpa refleksi.
IPCE memilih jalan ketiga: mengakui cerita sebagai sumber pengetahuan, sambil menuntut kesadaran epistemik dalam bertutur dan mendengar.
Karena sesungguhnya, sebelum manusia menulis kebenaran, ia terlebih dahulu mempercayai cerita.
Dan tugas kita hari ini bukan mematikan cerita, melainkan menjaga agar cerita tetap jujur, bertanggung jawab, dan terbuka untuk diuji.
Sebab pengetahuan yang benar bukan hanya yang bisa dibuktikan, tetapi juga yang berani dipertanggungjawabkan di hadapan sesama manusia.
Dan di sanalah, antara dongeng nenek dan podcast modern, antara legenda Gunung Padang dan teori arkeologi, antara kisah Atlantis Plato dan pencarian peradaban hilang, epistemologi bercerita menemukan kembali martabatnya sebagai benih ilmu pengetahuan dan sumber inspirasi peradaban.
Referensi untuk Pembaca yang Ingin Mendalami:
Ong, W. J. (1982). Orality and Literacy: The Technologizing of the Word. Routledge.
Vansina, J. (1985). Oral Tradition as History. University of Wisconsin Press.
Plato. (360 SM). Timaeus (terjemahan).
Temuan awal riset Gunung Padang dalam laporan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014).
***
_Pernahkah Anda merekam cerita orang tua atau nenek?_
_Coba lakukan. Itu mungkin akan menjadi arsip paling berharga yang Anda miliki, bukan hanya untuk Anda tapi untuk generasi yang akan datang yang mungkin akan belajar darinya tentang cara mengetahui yang lebih manusiawi.
والله اعلم

Posting Komentar
0Komentar